Saat Durianku Berbuah

Jumat, 10 Agustus 2012 | komentar

Hujan turun dengan derasnya saat aku memandangi pohon durianku yang mulai berbunga. Kumbang-kumbang yang tadinya asyik menghisap sari bunga durian tersebut terpaksa pergi terbang dan hinggap di pokok-pokok daun lontar di samping rumah Pak Bahar, tetanggaku, melihat kehadiranku.

“Kali ini mungkin buah durian kita lebat!” ungkap Ayah padaku kala itu. Aku hanya mengangguk sambil kembali memperhatikan titik-titik hujan yang jatuh di sela-sela daun si raja buah itu. Durian itu, tepat sekali tumbuhnya di antara pekaranganku dengan pekarangan rumah Pak Bahar. Jadi, ya, seperti milik berdua saja, begitulah kira-kira.

Seperti tahun-tahun sebelumnya apabila musim berbuah kami selalu menjualnya.Ya, lumayanlah buat tambah uang jajan sekolah dan buat bayar uang sekolahku.

“Tahun ini mungkin harga durian naik daripada biasanya, Ben, sebab kata teman-teman Ayah di warung, di desa tetangga, desa Sawah, durian sedang tidak berbuah. Jadi mungkin para petani durian di desa ini akan menaikkan harga,” papar Ayah padaku kembali sambil meneguk kopi yang disediakan Uni Del.

“Tapi kan belum tentu, Yah. Desa-desa lain juga banyak yang menghasilkan durian, seperti desa Simawik. Seandainya kita menaikkan harga sudah barang tentu para langganan yang datang dari kota itu membeli ke desa Simawik,” bantahku dingin, seperti dinginnya cuaca saat itu.

Ayah kembali menghirup kopinya.
“Ya, tapi kan sebagai desa penghasil durian nomor satu, mereka akan lebih cenderung membeli ke sini daripada ke Simawik. Kan jalannya ke sana tidak bisa dilewati oleh truk-truk besar seeprti yang datang ke sini. Pasti akan menambah ongkos saja. Jika mereka bersikeras mempertahankan untuk menawar harga di sini dan beralih ke Simawik. Upah ongkos ke sini juga mahal. Jadi sama saja,” Ayah meyakinkan pendapatnya sendiri.

Angin sedang semilirnya ketika aku melihat sebuah mobil Isuzu Panther berhenti di haaman rumah Pak Bahar. Dua orang pria berdasi, yang satu tinggi dan kepala plontos dan yang lain agak kelebihan lemak di tubuhnya turun dari mobil biru metalik itu sambil menenteng map hijau. Pak Bahar keluar dari rumahnya dan menemui mereka diserambi. Percakapan sayup-sayup kudengar menyambut kehadiran kedua lelaki itu karena memang rumahku sangat dekat dengan rumah Pak Bahar, hanya beberapa puluh inci. Barangkali, jika ada orang yang mau mengukurnya.

Aku menjadi terusik saja untuk mendengar percakapan itu. Maka aku pura-pura membaca koran untuk mendengarkan percakapan mereka yang begitu serius kelihatannya. Yang paling mengusikku untuk nguping adalah saat mereka bicara tangan Pak Bahar menunjuk-nunjuk ke batang durianku. Ada sesuatu yang ganjil?

“Berapa bulan lagi, Pak, kira-kira buah durian Bapak matangnya?” ucap yang tinggi botak terdengar di telingaku. Aku semakin heran.
Durian Pak Bahar? Tanyaku dalam hati.

“Kira-kira empat bulanlah. Kan putiknya sudah mulai besar. Jadi sekitar bulan Oktober besok,” sayup-sayup kudengar suara Pak Bahar yang bass itu. Aku semakin tertarik menyelidiki mereka.
“Kalau begitu sebagai uang muka terimalah uang ini. Nanti kalau durian itu sudah tiba masa panennya kami akan datang lagi. Tapi Bapak jangan menekan kontrak lagi dengan pemborong lain, Ok?” ujar si gemuk sambil menyodorkan sebuah amplop pada Pak Bahar. Dibukanya amplop tersebut lalu menghitung dengan jari-jarinya yang pendek dan gemuk. Ia tampak manggut-manggut. Setuju.
***
Empat bulan sudah berlalu, berarti sudah empat bulan pula si gemuk dan si tinggi botak itu datang. Putik-putik durian kini menjelma sudah menjadi buah durian yang besar dan hampir matang. Aku kembali duduk di serambi depan sambil baca-baca koran, juga sambil melihat kalau-kalau tamu Pak Bahar itu datang lagi bermobil Panther. Tentunya wajah Pak Bahar akan berseri-seri jika hal itu terjadi.
“Ben, belakangan ini Ayah lihat kamu sudah mulai rajin baca koran. Tidak seperti biasanya, pulang sekolah tidur dan sorenya main bola. Ada angin apa gerangan yang bertiup?” ujar Ayah mengangetkanku dari belakang.

“Ah, nggak hanya ingin cari situasi baru saja. Suntuk,” kilahku. Sengaja kusembunyikan masalah Pak Bahar yang menekan kontrak menjual semua buah durian. Aku cemas nanti terjadi yang tidak-tidak kalau sampai ayah tahu.

“Ngomong-ngomong durian kita sudah besar, ya, Ben. Sebentar lagi pasti matang. Hanya menunggu hari,” ucap Ayah bersemangat. Telingaku memerah. Seandainya saja Ayah tahu tentang ulah Pak Bahar yang sudah bertitel haji itu telah menekan kontrak penjualan durian mungkin ia tak berharapan sebesar ini. Tetapi bagaimana lagi, terpaksa aku menuruti tugasku, suma mengangguk, mengiyakan untuk membesarkan hati Ayah.

Aku kembali membalikkan halaman demi halaman koran ibukota yang ada di tanganku saat Ayah beranjak ke belakang. Ketika itulah kulihat kembali Pak Bahar mondar-mandir di depan rumahnya dengan sebatang rokok melekat di mulutnya yang hitam. Ia menoleh padaku dan aku pun menoleh padanya, beradu pandang.

“Nak Ben, kok di rumah saja? Nggak pergi ke lapangan bola? Si Maman sudah dari tadi pergi, siap salat asyar,” ia membuka pembicaraan denganku, mungkin hanya basa-basi.

“Lagi nggak mood, Pak. Lagian ujian semester kan hampir tiba. Jadi waktu bermain didiskon dululah,” jawabku sekenanya. Sebenarnya bukan itu yang terjadi pada diriku. Sebenarnya aku sedang menunggu kalau-kalau kolega lelaki itu datang. Itu sebenarnya. Namun kusembunyikan saja dalam-dalam semua itu. “Ada apa, ya, Pak, kok dari tadi Bapak mondar-mandir saja. Sepertinya menunggu sesuatu?” lagakku pura-pura tidak tahu.

“Memang, Bapak sedang menunggu seorang teman Bapak dari kota. Tadi dia menelpon, katanya sore ini dia datang ke sini.”

Oh, jadi memang benar dugaanku selama ini bahwa Pak Bahar tanpa berembuk dulu dengan ayahku telah memainkan perannya sendiri, menjual durian dengan sistem penjualan batangan.
Tak lama berselang kudengar deru mobil berhenti di depan rumah Pak Bahar. Ia tergesa-gesa melongok kemudian membuka pintu pagar rumahnya yang bercat putih.

“Selamat sore, Pak,” tegur si tinggi botak itu pada Pak Bahar dengan gaya yang lebih necis daripada empat bulan silam.

“Masuk, Pak, nggak enak di luar. Apalagi hari sudah mulai gelap. Mungkin hujan akan kembali turun sore ini,” Pak Bahar berbasa-basi sambil melangkah masuk ke dalam rumah bertingkat dua itu. Si botak itu ternyata datang tanpa diiringi oleh si gemuk. Setelah itu tak terdengar lagi percakapan mereka di telingaku. Aku menghela nafas panjang. Titel saja yang haji, tetapi perbuatannya jauh lebih bobrok dibandingkan preman jalanan! Serakah!” makiku dalam hati.

Petir menggelegar di angkasa bersahuta-sahutan. Angin berhembus kencang. Sudah bisa diduga seperti hari-hari sebelumnya, hujan turun setiap hari membasahi bumi ini.
Buummm! Aku tersentak oleh suara dentuman benda yang jatuh. Buru-buru aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Sebuah benda bulat berguling-guling di tengah rintiknya hujan. Durian! Pasti itu durian! Teriakku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku berlari ke belakang rumah, tergopoh-gopoh. Ternyata benar, sebuah durian yang cukup besar bercokol di bawah batang keladi setelah hampir lima menit kucari-cari di mana ia jatuh.
***
Mungkin itulah kali terakhirnya aku memungut buah durian two in one itu. Selang beberapa hari setelah itu sebuah truk besar sudah terpakir pula di depan rumah Pak Bahar yang haji itu.

Ayah tengah asyik membelah kayu ketika rombongan Pak Bahar tiba di pekarangan belakang-menuju batang durian. Durianku, durian Pak Bahar, dan durian two in one itu. Aku perhatikan saja mereka dari balik tirai jendela kamarku. Kulongokkan pula kepala ke arah Ayah yang mengerut keningnya menyaksikan rombongan Pak Bahar nongkrong di bawah batang durian yang juga telah berjasa melunasi uang sekolahku itu.

“Pak Bahar, tumben main ke belakang,” seru Ayah kudengar begitu nyaring. Tidak! Jangan sampai Ayah tahu dan berbicara panjang lebar dengan Pak Bahar. Tergesa-gesa aku menyusul ke belakang.
“Durian saya sudah mulai matang. Daripada mubazir saja, saya carikan saja memborong dan kebetulan sekarang sudah datang untuk memetik. Jika Pak Syam ingin nanti ambillah ke rumah,” ujar Pak Bahar datar.

“Kurang ajar kau Har!” maki ayahku.
Tak ingin menyaksikan pertengkaran itu berlanjut aku segera melerai. “Jangan, Yah, jangan marah. Biarkanlah Pak Haji itu memuaskan hawa nafsu serakahnya, tamak!” teriakku menengahi.
Tetapi Pak Bahar seperti tidak peduli. Ia balik membantah dengan ucapan kasar.
“Bapak yang kurang ajar. Selama ini saya biarkan saja Bapak memungut buahnya padahal durian itu milik kami, Pak. Sah milik kami!” bentaknya lebih keras.

“Sudah! Sudah! Memalukan!” bentakku menengahi dua gaek yang mulai panas itu.
“Ayah, biarkanlah dia mengambilnya. Mari kita ke dalam saja, tidak ada guna melayani omongan yang mubazir itu,” bujukku seraya merengkuh bahu Ayah. Pak Bahar tersenyum sinis sambil membuang ludah.
“Tak tahu diri. Sudah haji masih juga rakus!” umpat Kak Marni saat mendengar cerita pertengkaran itu dari mulutku.

Sudah kuduga, asma Ayah kambuh akibat pertengkaran itu. Dengan susah payah kami membopong Ayah ke tempat tidur. “Sudahlah. Yah. Kalau memang durian itu rezeki kita, takkan ke mana, tetapi kalau tidak, meski kita bertempur habis-habisan, takkan kita dapatkan. Allah Maha Tahu segalanya,” bujuk Kak Marni sekali lagi dari sisi Ayah berbaring, sementara dari belakang rumah terdengar dentuman-dentuman buah durian jatuh dari batangnya. Dari balik tirai kusaksikan Pak Bahar memunguti buah durian yang dijatuhkan oleh seekor beruk yang sengaja disewa untuk itu.
Satu minggu berlalu, namun mataku masih melihat truk besar berisi durian parkir di halaman rumah Pak Bahar. Seperti biasanya hujan turun dari langit dengan deras. Aku heran kenapa durian itu masih juga nongkrong di sana, padahal kalau diperam berminggu-mingu seperti itu tidak akan laku lagi di pasaran.
Aku memungut dan membuka koran pagi. Namun aku tersentak saat membaca sebuah berita besar di halaman dalam. Jalan yang menghubungkan Sumpur Kuidus dengan Kumanis terputus akibat hujan lebat. Oh?
Kayutanam, 29/4/03

Penulis:Afri Meldam

Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kumpulan Cerpen Islami - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger